Desain Pembelajaran Sains Berbasis Religius

September 20, 2008

Sepanjang sejarah manusia, pertarungan antara sains dan agama seolah tak pernah berhenti. Di satu pihak, ada kelompok saintis yang tak pernah dianggap sebagai intelektual, tetapi kerjanya yang berpijak pada dunia empiris secara nyata telah mengubah dunia seperti yang kita lihat sekarang ini. Di pihak lain, ada para agamawan, kelompok yang secara tradisional menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak berbicara semua ihwal tentang kebenaran. Kedua kelompok tersebut seolah tak pernah berhenti untuk saling klaim bahwa merekalah yang berhak menentukan kehidupan.

Agama dan sains adalah bagian penting dalam kehidupan sejarah manusia. Bahkan pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide religius (agama) dengan sains yang sebenarnya sudah berlangsung lama.

Saat ini, di tengah-tengah kemajuan bidang teknologi dan pengetahuan, dunia dihadapkan pada berbagai krisis yang mengancam eksistensi manusia. Bahkan jauh-jauh hari Sayyed Hosen Nasr telah mengidentifikasi krisis eksistensi tersebut sebagai ancaman yang cukup serius. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa krisis eksistensi ini disebabkan karena manusia modern mengingkari kehidupan beragama. Hingga pada akhirnya mereka arogan terhadap agama bahkan tak jarang menolak keberadaan Tuhan.

Kemajuan sains membawa dampak pada dikesampingkannya agama. Kenyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan kata lain, kematian agama di tengah kedigdayaan sains. Agama semakin tidak memiliki peran strategis dalam posisi manusia modern. Ini menyebabkan krisis spiritual melanda manusia zaman ini.

Namun, di tengah krisis spiritual ini, kritik terhadap modernisme juga datang seiring semakin terasa hampanya hidup. Banyak para tokoh intelektual yang mencoba mengambil jalan tengah dengan memadukan sains dan agama. Sebutlah Fritjof Capra, seorang ahli fisika bertangan dingin yang menulis buku The Tao of Phisics mengungkap bahwa adanya paralelisme antara mistisisme timur (Konghucu, Konfusian, dan agama timur lainnya) dengan fisika baru (dalam hal ini sains modern). Paralelisme tersebut dapat menjadi penyatu manusia dalam memasuki kehadiran kemajuan teknologi ini.

(Note: Untuk mendapatkan file lengkapnya kirimkan komentar di blog ini, jangan lupa alamat emailnya)

Advertisements